Pengembangan Masyarakat Adat

Workshop Pengembangan Ekonomi Blue-Green sebagai Model Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Kampung di Supiori dan Boven Digoel

Penulis
MPD - JERAT Papua
Tanggal
Bacaan
4 menit
Kembali ke Daftar Aktivitas
JERAT Papua Menggelar Worshop Ekonomi Blue Green dengan melibatkan Komunitas Masyarakat adat dari Kabupaten Supiori dan Boven Digoel.
JERAT Papua Menggelar Worshop Ekonomi Blue Green dengan melibatkan Komunitas Masyarakat adat dari Kabupaten Supiori dan Boven Digoel.
Jayapura, Papua — Dalam periode 26–28 Februari, Jaringan Kerja Rakyat (JERAT) Papua melaksanakan Workshop Pengembangan Ekonomi Blue-Green sebagai Model Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Kampung yang dilaksanakan di Kabupaten Supiori, Provinsi Papua, dan Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua Selatan. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Departemen Pemberdayaan Masyarakat Adat (DPMA) JERAT Papua dalam periode kerja 2024–2026.

Kegiatan ini lahir dari kesadaran atas meningkatnya krisis ekologi global seperti perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan eksploitasi sumber daya alam yang tidak berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, pendekatan Blue-Green Economy dipandang sebagai salah satu model pembangunan yang mengintegrasikan ekonomi biru dan ekonomi hijau untuk mendorong keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan kesejahteraan sosial masyarakat adat.

Ekonomi biru berfokus pada pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan, sementara ekonomi hijau menekankan pada pembangunan rendah emisi, efisiensi sumber daya, serta penggunaan energi dan praktik yang ramah lingkungan. Di Tanah Papua, yang memiliki kekayaan hutan dan laut yang sangat besar, pendekatan ini menjadi semakin relevan untuk memastikan bahwa pengelolaan sumber daya alam tetap menjaga keseimbangan ekologi dan kehidupan masyarakat adat.

Melalui kegiatan ini, JERAT Papua mendorong penguatan praktik ekonomi berbasis kampung yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan dan penguatan kapasitas masyarakat adat dalam mengelola sumber daya mereka sendiri.

Salah satu peserta dari Kelompok “Aibon” Kampung Yawori, Kabupaten Supiori, Diana Kawer, menyampaikan harapannya agar produk olahan buah mangrove yang mereka kembangkan dapat memperoleh dukungan lebih luas, termasuk dari pemerintah, sehingga dapat dipasarkan tidak hanya di Supiori, tetapi juga ke wilayah lain.

“Sa ini berharap bahwa olahan buah ‘aibon’ ini suatu saat juga menjadi makanan yang bisa ada dan disajikan pada meja makan secara umum,” ungkapnya.

Kelompok ini sendiri telah mengembangkan olahan berbasis buah mangrove seperti tepung aibon dan beras aibon sebagai alternatif pangan lokal. Selain bernilai ekonomi, pengembangan ini juga sejalan dengan upaya konservasi ekosistem mangrove yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir dan mencegah abrasi pantai.

Di Supiori, upaya konservasi mangrove juga terus dilakukan oleh kelompok masyarakat adat melalui pendekatan berbasis kearifan lokal. Moses Mandosir menjelaskan bahwa masyarakat adat memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove melalui sistem pengelolaan berbasis marga dan wilayah ulayat.

“Konservasi ekosistem mangrove di Kabupaten Supiori kami lakukan dengan pendekatan berbasis kearifan lokal, di mana pemilik marga memiliki peran sentral dalam menjaga dan memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan,” jelasnya.

Sementara itu di Distrik Mindiptana, Kabupaten Boven Digoel, kelompok perempuan menjadi bagian penting dalam pengembangan ekonomi hijau melalui pemanfaatan pekarangan rumah untuk pertanian sayur sederhana. Kegiatan ini dilakukan dengan teknik sederhana seperti penggunaan polybag dan pupuk organik dari limbah rumah tangga.

Florentina Ambokten dari Kelompok Perempuan Mindiptana menyampaikan bahwa inisiatif ini lahir dari upaya mengubah pola pikir masyarakat dalam memanfaatkan lahan yang ada di sekitar rumah.

“Di rumah itu, saya mulai manfaatkan saya punya pekarangan rumah, mulai dari minta bekas karung semen kosong lalu isi dengan tanah dan mulai tanam sayur-sayuran. Pelan-pelan saya pakai polybag. Jadi penting menurut saya untuk ubah pola pikir dan pola tanam,” ungkapnya.

Upaya ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan keluarga, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi rumah tangga serta kesadaran terhadap praktik pertanian berkelanjutan.

Selain itu, Sekolah Kampung Mindiptana juga menjadi ruang pendidikan berbasis kearifan lokal yang mengintegrasikan isu lingkungan, pertanian berkelanjutan, dan pelestarian budaya. Yohanes Nongyap, penggagas Sekolah Kampung Mindiptana, menjelaskan bahwa lembaga ini telah melahirkan 76 alumni yang terlibat dalam berbagai aktivitas pemberdayaan masyarakat.

“Sekolah Kampung ini adalah harapan yang akan terus merawat alam dan manusia Papua melalui kurikulum kearifan lokal,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa pengembangan ke depan mencakup pengolahan hasil kelapa menjadi Virgin Coconut Oil (VCO) sebagai bagian dari penguatan ekonomi lokal berbasis potensi kampung.

Dari sisi penguatan ekonomi hijau, Irianto Jacobus dari KIPRa Papua menegaskan bahwa ekonomi hijau merupakan pendekatan yang menyeimbangkan aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial. Salah satu contoh praktik yang dikembangkan adalah budidaya serai wangi di Kabupaten Keerom yang melibatkan masyarakat adat secara langsung.

“Dengan adanya kelompok tani ini, diharapkan masyarakat dapat lebih mandiri dan berdaya dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan,” jelasnya.

Sementara itu, pemerintah daerah melalui Kepala Bidang Teknologi Tepat Guna dan Pengelolaan Sumber Daya Alam Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung Provinsi Papua, Victor H. Rimandubby, memberikan apresiasi terhadap inisiatif JERAT Papua dalam mendorong praktik pembangunan berbasis kampung.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam menjaga keberlanjutan lingkungan di Tanah Papua yang saat ini menghadapi tantangan krisis ekologi.

“Mari terus bergerak bersama dalam memberikan pikiran yang baik dalam rangka merawat alam dan manusia Papua secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Engelbert Dimara selaku Team Leader JERAT Papua menegaskan bahwa organisasi ini hadir sebagai mandat masyarakat adat untuk memperjuangkan hak, kedaulatan, dan kesejahteraan masyarakat adat di Tanah Papua melalui penguatan ekonomi, sosial, budaya, serta pelestarian lingkungan.

Melalui workshop ini, JERAT Papua berharap lahir praktik-praktik baik yang dapat menjadi rujukan pembangunan berkelanjutan berbasis kampung, sekaligus memperkuat jejaring masyarakat adat dalam mengelola sumber daya alam secara mandiri dan berkelanjutan.

Dokumentasi Foto

2 foto
Topik: #JERATPapua #EkonomiHijau #EkonomiBiru #BlueGreenEconomy #MasyarakatAdat #Papua #SekolahKampung #BovenDigoel #Supiori #Keberlanjutan
Bagikan Artikel
Sebarkan ke media sosial